Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Monday, September 30, 2019

Hilang

Hilang
dia mulai memudar
luruh bersama luh
yang menetes menemani rindu

Hilang
dia mulai memudar
Memang bukan ini mauku
mengaturmu seenakku
mencintaimu semauku
bukan begini caraku
harusnya kau tau itu

Hilang
dia mulai memudar
Membaktikan rasa percaya padamu,
melambang kasih dengan sayang
kau tepis dengan berikan
sepi yang tak berkesudahan

Hilang
dia mulai memudar
Mudah saja kau bilang,
"Aku salah apa?"
saat semua yang sudah terjadi
terlalu banyak untuk diungkit kembali

Hilang
dia perlahan mulai memudar
Cinta, cita cita, cerita, dan semua turunannya
hanya kedok mata manusia
Coba kau pikir,
hati mana yang bisa dibohongi

Saturday, February 21, 2015

Sebuah titik dari Tuhan

inilah titik yang kutunjukkan padamu
titik dimana takut dan lemahmu tiada
titik dimana diam dan amarahmu tak lagi berkuasa
titik dimana sedih dan cemasmu hilang tak bersisa
akan ada titik itu,
pada tiap tangis dan gundah
pada tiap sayap yang terluka
pada tiap hati yang terbelah

titik itu akan menguatkan
menghebatkan
menegarkan
mendewasakan
mengabarkan kebahagiaan
dan memberimu kesempatan untuk berlari meraup lebih banyak kebaikan
bersabarlah

Wednesday, December 3, 2014

Tabiat Hujan

Tak sedikitpun aku berharap mendung di setiap pagi.
Mendung mengubah langitku menjadi kelabu
Kelabu yang tak berpihak pada satu warna, bukan biru, 
bukan hitam, pun bukan putih
Mendung tak pernah memeluk kita dengan cinta dan suka cita
Mendung akan menyeretmu ke ruang kesedihan dan gelisah
Tak sedikitpun aku suka tabiatnya

Berbeda dengan sang hujan
Berbeda dengan bagaimana aku sangat menyukai detik-detiknya
tentang
bagaimana titik-titik airnya tak pernah jatuh sendirian
tentang
bagaimana airnya membasahi tanah-tanah gersang
tentang 
bagaimana airnya bermesraan dengan taman dan bunga-bunga
tentang
bagaimana airnya yang mensucikan
tentang
bagaimana airnya menggembirakan pohon-pohon yang tertegun kuyu
tentang
bagaimana airnya dengan lembut menyapih bumi
tentang
bagaimana airnya menyeka wajah alam untuk tersenyum lagi
tentang
bagaimana airnya tak pernah berniat menyakiti
tentang
bagaimana airnya selalu rela untuk jatuh dan tak pernah merasa tinggi saat terangkat kembali
tentang
bagaimana airnya menyembunyikan air mata pada wajah-wajah sedih
tentang
bagaimana tiap titiknya menjadi saksi doa-doa kita, lalu turut mengamini

Aku bersyukur,
Karena mendung sedaritadi pagi kini berakhir
berganti menjadi butir air.
Kuharap setelahnya aku dapat melihat gurat senyum pelangi,
karena mungkin aku takkan melihatnya lagi esok pagi.

Thursday, December 12, 2013

A Letter from Heaven

It's been such a long time
I sat myself and looked around
No one but you could see me,
as a nice memory
Past was gone by whispering wind,
desire and love as the part of it
Letting you run the earth alone,
not what I want
Letting you see me drown,
that's the biggest mistake I've ever done

Don't be sad you now! Don't be!
Here I smile and better see the world
You have to see what life means
Not with me maybe
but that's the way it is
I run our world in the past,
I did
but no one even me couldn't deny it

Thank God, for this present
Now you can see me closer in your dream,
touch me softly as I am the earth,
feel me better as I am the wind



- December 12th, 2013 -
Happy Birthday, Dad :) hope I can say it directly to you.. But I can't.. yet

Friday, March 23, 2012

"An angel's rhapsody"

by Nurin Nafisah

Once he saw an angel,
Flying solo under her wings,
Winding by the winds,
Then perching on her heel,

Once he heard an angel,
Singing over her answers,
Grudging through her manners,
Still--not to betray to be noble,

La-la-la
La-la-la-lu-lu;
she sang at the bayou,

La-la-la
La-la-la-li-li;
she admired his sherry,

La-la-la
La-la-la-du-du;
her weep as the dropping dew,

Once he found an angel shining,
Up flown under her wings--lightly,
Wrapped inearth her mourning,
Then confessed her purity--saintly.

Monday, October 24, 2011

vomomte olnem


by: Nurin Nafisah


Nothing’s coming up in my mind
Just a huge dull space without verbs or nouns
I tried to remember who you be
But I’ve got nothing but the worst memory

As a wind blowing at my hair, you cool me down
As an ash covering  my  face, you dirt me on
I hate waiting your tongue giving good, but
I won’t stop running and smashing the wood

Knock me off as I bring my star
Sing a lulaby for someone so far
I tried  to remember who you be
But  I’ve got  nothing but the worst memory

Friday, October 21, 2011

The Curious Little Lion


Once the little lion was stunned by the tone of the dancing clover, 
deep inside the jungle where he'd never been there before.
He bravely claimed himself as a conqueror.
Because to get that clover,
he must climb a high bundle of roots with his fully endeavour.
That was gonna be the long journey of the little lion's first adventure. 

Thursday, October 20, 2011

Gubuk Dikala Senja

Puisi ini aku buat ketika aku teringat akan sesuatu. Saat aku pulang sekolah, aku menunggu jemputan di depan sekolahku. Sembari menunggu, aku melihat ada seorang kakek-kakek yang sedang duduk sendiri di depan rumahnya yang sangat sederhana. Terbesit diotakku untuk menanyainya mengapa ia sendirian. Akhirnya ku beranikan diri untuk bertanya padanya. Siapa namanya, apa yang sedang dia lakukan, bahkan aku tanyakan dengan siapa dia tinggal. Namanya pak To, dia bilang dia hanya sedang menikmati sore kala itu. Dan pak To pun mulai menceritakan keluh kesahnya padaku. Dia menasihatiku untuk menjadi murid yang pandai, sekolah yang rajin, dan tidak pernah melupakan sholat. Nasihat yang tak akan pernah aku lupakan dari seorang kakek yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Pak To bilang, dia tinggal di Sidoarjo hanya seorang diri. Istrinya sudah lama meninggal karena penyakit diabetes. Anak satu-satunya yang tinggal di Kalimantan, tak mau menjenguknya lagi, karena alasan jarak yang jauh dan biaya yang tak sedikit. Selama ini, pak To hidup dengan belas kasih tetangganya. Dia juga membuat keranjang dari bambu untuk menambah penghidupannya. Pak To, semoga pak To sehat selalu. :)

Sunday, October 2, 2011

Rancu


Puisi ini aku buat ketika memperingati hari Pahlawan, 10 November 2009. Saat itu salah satu perusahaan media masa terbesar di Jawa Timur sedang mengadakan event Antologi Seribu Puisi. Dengan mengangkat tema pahlawan, aku buat puisi ini dan segera aku berikan ke seorang editor. Alhamdulillah, karya ini lolos dan dimuat di Antologi yang ia buat. Terima kasih untuk kalian yang memberi pandangan positif terhadap karya-karyaku. I love you all..☺

Thursday, November 12, 2009

Mainan Kata

Puisi ini aku buat ketika guru Bahasa Indonesia ku mencorat-coret hasil karya kami. Tak hanya itu, kami juga sakit hati dengan cemoohan yang ia lontarkan dari mulutnya. Bukannya nasihat yang kami dapat, tapi hinaan yang nggak berguna. :(
Buat kalian calon guru atau yang sudah berstatus guru. Jadilah sosok yang orang Jawa katakan GURU= digugu lan ditiru (indo= didengar dan ditiru)
Jangan malah jadi GURU= digunem lan njauk digaru (indo= dibicarain orang dan minta di garu-> maaf kasar banget.hehe)

Tuesday, October 13, 2009

Renungan Bumi



Puisi ini aku buat ketika aku merenungi keadaan alam yang kian memburuk. Banjir dimana-mana, bencana yang menumpahkan darah dan menelan nyawa, membuatku prihatin dengan bumiku.
Aku pun tak bisa menyalahkan alam atau bahkan menuduh Tuhan sebagai penyebab kekacauan ini. Karena memang pada dasarnya semua apa yang kita petik adalah apa yang kita tanam.
Ya Allah, selamatkanlah kami dari segala bentuk marabahaya di bumi dan di akhiratMu.. Aaamiin...


Tuesday, December 23, 2008

Senandung Perempuan

Puisi ini aku buat ketika hari ibu. 
Terinspiraasi dari puisi yang dikutip di buku karya om Salim A. Fillah, aku ambil sedikit kutipan dan aku apply di puisiku. Abisnya keren banget sih, kata-katanya.. Subhanallah banget.. hihihi
Buat para perempuan yang merasa Islam tidak mengindahkan keberadaanya, semoga kalian terbangun dan sadar akan bentuk penghormatan Islam pada kalian ketika kalian juga mentaati apa yang ada didalam ajaran Islam. ☺
Aku harap puisi ini dapat menginspirasi perempuan Indonesia untuk tetap berdikari dan tegar dalam menjalani hidup. Puisi ini adalah hadiah dariku untuk diriku sendiri, Ibuku, Nenekku, dan Seluruh Perempuan di Indonesia.. ^^


Monday, November 3, 2008

Sang Penggila Dusta

Puisi ini aku buat ketika aku melihat seorang ibu yang sedang mencari emas di sungai, siang itu. Seketika aku merenungkan keadaan negeriku yang sekarat. 
Keparat! Banyak sekali anak kecil yang menderita busung lapar. Tak sedikit pula dari mereka yang kehilangan nyawa hanya karena penyakit malnutrisi. Bobrok dan tak bisa majunya negeri ini cuma ada satu penyebab utamanya, yakni KORUPTOR BANGS*T!!!
Semoga surga menolakmu dan semoga neraka tak enggan menerimamu..!!!
Cinta dan kesedihanku, untuk mereka yang menjadi korban para tikus berdasi penggila dusta.

Sunday, November 2, 2008

Salju Dimusim Kemarau

Puisi ini aku buat setelah aku mendengarkan curhat seorang teman saat SMA. Aku sangat terinspirasi akan kisahnya. Ia menceritakan kegirangannya ketika ada seorang laki-laki yang mendekatinya. Laki-laki itu sangat baik kepadanya dan menghibur segala gundahnya. 
Ia bilang ia jatuh cinta pada laki-laki itu. Ia bilang, entah kenapa seiring cintanya berkembang, makin membaik pula hidupnya. Tak pernah aku melihat dia sesemangat dan segirang itu di sekolah. Tak pernah pula ku melihatnya seceria dan seramah itu ketika aku main ke rumahnya. Nampaknya itulah yang membuat cinta tak terdefinisikan.

Sunday, October 19, 2008

Doaku 'tuk Sepenggal Penantian

Puisi ini aku buat untuk temanku yang sedang galau menunggu kekasihnya. Selamat ya, karena akhirnya kalian menikah. ^^
Aku turut senang mendengarnya. Dan puisi ini aku publish khusus buatmu, mbak Nita. Sahabat terbaik saat aku senang dan sedih. Saat aku banyak duit atau sedang bokek.hehehe
Kamu sahabat paling setia. 
I miss you so much..
I'm always waiting the good news from you and your family.
Be a good wife for your husband and never give up to give the best for your family ;)



Friday, October 3, 2008

Hapuskan Keakuanmu

Puisi ini aku buat saat aku SMA. Masih labil-labilnya, tuh..ehehe
Yupp.. saat itu aku murid mutasi dari luar kota. So, nggak satupun wajah teman-teman sekelasku yang nampak familiar dibenakku. Aku pun berusaha untuk mengakrabkan diri dengan mereka. Dan akhirnya ada satu orang yang mau menjadi temanku. Tapi, siapa sangka dia ternyata tipe orang yang mengagungkan kata 'AKU'. Sebel, kesel, kecewa, dan pastinya sedih. 
Bukan pertemanan seperti itu yang aku inginkan.
Aku ingin selalu ada 'KITA' antara aku dan dia.
Namun, apa boleh buat. Itulah dia dan sifatnya. Toh, di dunia ini masih banyak yang mau menjadikan dan aku jadikan teman.
Semoga kamu hidup bahagia dengan sifatmu. :)

Wednesday, September 17, 2008

Kisah Dalam Doa

Puisi ini aku buat ketika aku teringat ayahku.
Puisi ini memang merupakan curhatku pada kalian, tentang betapa sangat sangat sangaaat sangaaaat rindunya aku pada ayahku yang telah pergi atas Panggilan-Nya, pada tahun 1995 silam.
Sepi dan sendiri. Itulah yang aku rasakan hingga detik ini. Aku haus kasih sayang seorang ayah dan mungkin inilah yang membentuk pribadi saat ini (tomboy, dan lebih suka melindungi ketimbang dilindungi).
Entahlah. Hanya satu yang aku ingat tentang ayahku, yakni 'AKU SANGAT MENCINTAINYA'.