melanjutkan.... Ujian Manusia
Aku masih terjaga di dalam kamar lembab berukuran 2x3 meter ini. Apapun dan bagaimanapun amarahku pada Tuhan, tak ada yang mengalahkan besarnya amarahku pada adikku, dan pada diriku sendiri. Setelah berjalan kaki sejauh tiga kilometer lebih, akhirnya aku menemukan motel kumuh ini. Kali ini aku sependapat dengan Tuhan yang mempertemukanku dengan motel kumuh yang papan namanya pun sudah usang dan hampir roboh. Aku bersyukur bisa menemukan motel kumuh ini, karena hanya motel jenis inilah yang sanggup aku upayakan biaya per malamnya.
Aku masih terjaga di dalam kamar lembab berukuran 2x3 meter ini. Apapun dan bagaimanapun amarahku pada Tuhan, tak ada yang mengalahkan besarnya amarahku pada adikku, dan pada diriku sendiri. Setelah berjalan kaki sejauh tiga kilometer lebih, akhirnya aku menemukan motel kumuh ini. Kali ini aku sependapat dengan Tuhan yang mempertemukanku dengan motel kumuh yang papan namanya pun sudah usang dan hampir roboh. Aku bersyukur bisa menemukan motel kumuh ini, karena hanya motel jenis inilah yang sanggup aku upayakan biaya per malamnya.
Kebencianku pada kota dingin ini kian tumbuh
subur meski aku tak memupuknya. Tuhan nampaknya masih belum bersedia
menggerakkan jari-jari adikku untuk menekan pilihan konfirmasi telepon pada
kontak namaku. Aku benar-benar tak tahan dengan ketidakberuntungan yang aku adu
di kota ini. Aku kalah pada keadaan. Iya, kali ini aku menyerah. Atau hampir
menyerah.
***